Selamat Datang

Pencarian:
Diseminasi Hasil Kajian Dampak Kependudukan
Diposting Oleh Kependudukan BKKBN Prov. Jambi | Berita Kependudukan | Rabu, 04 November 2015 - 11:15:24 WIB

Dalam rangka penyebarluasan hasil kajian analisis dampak kependudukan, Direktorat Analisis Dampak Kependudukan BKKBN RI menyelenggarakan diseminasi hasil kajian analisis dampak kependudukan yang diikuti oleh jajaran pengelola program pada tingkat pusat dan melibatkan Bidang Pengendalian Penduduk Perwakilan BKKBN seluruh provinsi di Indonesia melalui Video Conference pada hari Senin Tanggal 02 Nopember 2015.

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala BKKBN RI, Surya Chandra Surapati menyatakan dengan tegas bahwa seyogyanya seluruh hasil kajian analisis dampak kependudukan tidak disimpan akan tetapi disebarluaskan atau dipublikasikan kepada masyarakat luas serta pemangku kebijakan guna pengendalian dampak kependudukan di masa yang akan datang.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh lebih dari 15 orang pengelola program dan mitra kerja tingkat Provinsi Jambi tersebut diantaranya : Balitbangda, Bappeda, KKI, IPADI, Akedemisi dari beberapa PTN/PTS hadir sebagai pembicara yaitu Guru Besar Universitas Diponegoro Dr. Ing Wiwandari Handayani, ST, MT, MPS, Prof. Dr. Muhajir Darwin dari Universitas Gajah Mada dan Dosen IPB Ir. Said Rusli. Dalam paparan panel, dosen dari Universitas Diponegoro yang akrab dipanggil Dr. Wiwik memaparkan hasil kajian analisisnya yang berjudul “Membangun Kapasitas Transformatif Masyarakat Dalam Upaya Pemanfaatan Bonus Demografi : Kajian Pada Sektor Primer di Jawa Tengah”. Dalam kajiannya ini Dr Wiwik berupaya memanfaatkan momen bonus demografi dikaitkan dengan pengoptimalan sektor primer (pertanian) dan meningkatkan kepedulian pemerintah untuk menciptakan peluang kerja. “ ........dengan harapan konsep ini bisa masuk ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) karena bertepatan dengan momen bonus demografi” tegas Wiwik.

Panelis kedua Prof Muhajir memaparkan hasil kajian atas beberapa studi kasus di beberapa Provinsi di Indonesia dengan judul “Agama dan Program Keluarga Berencana Pasca Reformasi, Studi Kasus : Konservatif katolik di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Fundamentalisme Protestan di Sulawesi Utara”. Pada kajian sebelumnya Prof Muhajir juga telah melakukan studi kasus hubungan Total Fertility Rate (TFR) dengan Islam Salafi di beberapa provinsi, diantaranya : Aceh, Yogyakarta dan Sulawesi Selatan. Dalam analisis ini Muhajir mencoba melihat apakah fenomena TFR tinggi itu mendapat dukungan dari sektor keagamaan? Pada kunjungannya langsung kebeberapa gereja katolik maupun kristen, Uskup menyatakan bahwa tujuan keluarga itu untuk membentuk anak dan tidak ada ajaran agama yang membatasi anak. Satu – satunya cara yang diperbolehkan yaitu metode kalender/ pantang berkala. “.........itu memang sudah menjadi aturan gereja, namun gereja juga memahami keputusan jamaahnya” jelas Uskup. Artinya disini gereja bersikap netral dalam hal penggunaan alat obat kontrasepsi.

Prof Muhajir mengambil sampel studi kasus di Provinsi Nusa Tenggara Timur dikarenakan atas fenomena TFR yang masih cukup tinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Dari beberapa wawancara yang dilakukan kepada Ibu – Ibu Katolik menyatakan bahwa kontrasepsi itu melawan kodrat wanita yang melahirkan anak – anak. Namun apabila ada wanita yang besedia menggunakannya itu sudah menjadi hak pribadi perseorangan.

Studi kasus selanjutnya dilakukan di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Selatan yang pada dasarnya gereja juga menyatakan bahwa memiliki anak itu tidak boleh dibatasi. Dengan artian disini fundamentalisme ini mengacu kepada makna cenderung untuk memiliki anak banyak. Akan tetapi pada akhir paparannya Prof Muhajir menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada kompetisi atau persaingan fertilitas jamaah antar umat beragama di Indonesia. “................jika ada yang menyatakan bahwa agama tertentu mengharuskan memiliki anak banyak dengan alasan untuk memperbanyak jamaah, itu hanyalah ilusi” jelas beliau. Disini kita harus bersama – sama memahami bahwa kita menyelamatkan bonus demografi agar tidak berubah menjadi bencana demografi.

Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Ir. Said Rusli memaparkan hasil kajian dengan judul “Indeks Komposit Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Kota”. Menurut Beliau Pemerintah perlu melakukan pemetaan kota – kota besar di Indonesia karena berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010 terdapat 80 kota besar di Indonesia. Said berkata “ Transformasi masyarakat desa menjadi masyarakat kota atau dari sektor pertanian menjadi sektor perindustrian atau jasa, kuantitas penduduk yang meningkat akibat dari pertumbuhan penduduk alami perkotaan serta tekanan penduduk agraris mendorong urbanisasi atau faktor mobilitas adalah faktor - faktor yang perlu menjadi perhatian kita bersama.” Lebih lanjut lagi Said juga menyatakan bahwa indeks komposit daya dukung dan daya tampung lingkungan kota dipengaruhi oleh 5 indeks lainnya, diantaranya : lingkungan, sosial, ekonomi, politik dan pertahanan keamanan. Pada akhirnya, sama dengan analisis/ kajian yang lainnya diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan perkotaan di masa depan.

Pada akhir kegiatan ditutup dengan paparan sosialisasi link publikasi on line Direktorat Analisis Dampak Kependudukan pada web BKKBN. go. id oleh Ibu Direktur Ditdamduk Dra. Widati, MM. Karena telah menjadi salah satu tugas Ditdamduk untuk menyiapkan kajian yang komprehensif mengenai dampak kependudukan. Hasil – hasil kajian analisis dampak kependudukan pun hendaknya dapat dimanfaatkan untuk perbaikan kebijakan Pemerintah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk pada masa sekarang dan yang akan datang.(dita)




Drs. Endang Agus Sapri, MM
Kepala Perwakilan
BKKBN Provinsi Jambi
"Dua Anak Cukup
Bahagia sejahtera"
Drs. H. Edward, MM
Kepala Bidang
Pengendalian Penduduk
BKKBN Prov. Jambi

Photo Gallery

Pengumuman BKKBN

Produk Hukum

Indeks Berita

/ /

Video Kegiatan