Selamat Datang

Pencarian:
Fertilitas remaja di Indonesia: Analisis Data SDKI 2012
Diposting Oleh Kependudukan BKKBN Prov. Jambi | Berita Kependudukan | Senin, 20 Maret 2017 - 07:55:21 WIB

Fertilitas remaja di Indonesia: Analisis Data SDKI 2012

Risma Mulia
Mahasiswa Program Doktor 
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
rismamulia79@gmail.com; risma.mulia@bkkbn.go.id
+6282125881064

 

Abstrak

Fertilitas remaja di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara 48 per 1000 (SDKI, 2012). Dalam upaya mengendalikan fertilitas remaja penting untuk memahami determinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola dan perbedaan fertilitas remaja di Indonesia, faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas remaja, dan seberapa besar pengaruh masing-masing faktor. Data yang digunakan adalah hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Unit penelitian adalah perempuan status kawin usia 15-19 tahun yang berjumlah 7207 orang. Analisis faktor-faktor fertilitas remaja dilakukan dengan menggunakan suatu model regresi logistik biner. Variabel bebas adalah tempat tinggal, tingkat pendidikan, status kerja, indeks kekayaan kuintil, pengetahuan KB dan pemakaian kontrasepsi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan kawin (15-19 tahun) yang memiliki peluang lebih besar mengalami fertilitas remaja adalah perempuan yang berpendidikan rendah, dari indeks kesejahteraan bawah dan tinggal di perdesaan. Persentase fertilitas remaja lebih tinggi di perdesaan dibandingkan di perkotaan, yaitu masing-masing 14 persen dan 7 persen. Menurut tingkat pendidikan, proporsi perempuan berpendidikan rendah lebih tinggi untuk mengalami fertilitas remaja dibandingkan dengan perempuan berpendidikan tinggi (30 persen dan 2 persen). Menurut indeks kesejahteraan, proporsi perempuan dari kuintil bawah lebih tinggi untuk mengalami fertilitas remaja dibandingkan perempuan dari kuintil menengah dan atas (16 persen, 9 persen dan 7 persen). Di antara faktor-faktor tersebut, pendidikan, indeks kesejahteraan dan tempat tinggal merupakan variabel yang sangat berpengaruh terhadap peluang terjadinya fertilitas remaja di Indonesia.

Kata Kunci
Fertilitas, remaja, Indonesia, regresi logistik, SDKI 2012

Pendahuluan

Permasalahan fertilitas remaja masih menjadi pembicaraan tingkat dunia. Sekitar 700 juta perempuan menjadi ibu sebelum usia 18 tahun di dunia (BPS, 2015). Indonesia dengan prevalensi fertilitas remaja tertinggi di Asia Tenggara. Susenas (2012) menunjukkan 25 persen perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun menikah sebelum mencapai usia 18 tahun. SDKI (2012) 10 persen perempuan yang sudah menjadi ibu pada umur 15-19 tahun, di antaranya 7 persen sudah pernah melahirkan dan 3 persen sedang hamil anak pertama. Wilayah sebagai lumbung perkawinan usia anak diantaranya Kalimantan Barat (22,9 persen), Kalimantan Tengah (20,5 persen), Papua Barat (17,3 persen), Sulawesi Barat (17,1 persen), dan Jambi (16,4 persen).

Fertilitas remaja menggambarkan jumlah wanita yang sudah pernah melahirkan atau sedang mengandung anak pertama pada usia 15-19 tahun. Hasil SDKI 2012 menunjukkan bahwa persentase wanita 15-19 tahun yang sudah melahirkan dan hamil anak pertama mencapai 9,5 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2007, yaitu persentase wanita yang sudah menjadi ibu di usia remaja mencapai 8,5 persen (SDKI, 2007). Hasil dua SDKI tahun terakhir (2007 dan 2012) menunjukkan peningkatan fertilitas remaja.

Dutta dan Sarkar, 2014; Yavuz, 2010; Anderson, 2010; Alemayehu, 2010; Nahar dan Min, 2008; Cesare dan Vignoli, 2006; Gamble et al, 2005 Mahy dan Gupta, 2002 membuktikan ada hubungan tempat tinggal, agama, status kerja, lama pendidikan, kemiskinan, akses terhadap media informasi, adat istiadat dan penggunaan kontrasepsi terhadap probabilitas kejadian fertilitas remaja di dunia. Temuan UNICEF dan BPS (2015) masih tingginya prevalensi fertilitas remaja di Indonesia; perkawinan tertinggi terjadi di antara perempuan usia 16-17 tahun; fertilitas remaja dan pendidikan saling berhubungan; kemiskinan seringkali dijadikan alasan dibalik kejadian fertilitas remaja; prevalensi fertilitas remaja yang sangat tinggi terdapat di kantong-kantong geografis di seluruh Indonesia.

Dari hasil penelitian menunjukkan hubungan antara melahirkan di umur 15-19 tahun dengan akibat morbiditas dan mortalitas bagi ibu dan bayi. Dampak bagi bayi yang dilahirkan seperti lahir prematur, berat badan lahir rendah, cacat dan kekurangan gizi. Masalah ini apabila terus menerus sampai dengan usia dua tahun akan menyebabkan anak berisiko mengalami stunting dan mempengaruhi kecerdasan berpikir. Bayi yang dilahirkan dari ibu berusia remaja cenderung mengalami ganggunan mood yang dalam jangka panjang akan mengganggu perkembangan emosi, perilaku dan kognitif (WHO, 2010; Anderson, 2010; Depkes, 2010; Gambel 2005).

Menken (1981) menjelaskan prevalensi tinggi pada fertilitas remaja akan meningkatkan jumlah populasi suatu negara. Angka fertilitas remaja dapat mempengaruhi jumlah populasi dengan uraian sebagai berikut; a). jika tidak ada kelahiran pada perempuan yang berumur kurang dari 18 tahun dan angka kelahiran kelompok umur 15-19 tahun turun 30 persen maka populasi dalam 50 tahun ke depan menjadi 5 persen lebih kecil; b). jika semua kelahiran dari kelompok remaja umur 15-19 tahun ditunda (75 persen kelahiran ditunda sampai umur 20-24 tahun dan 25 persen sampai mencapai umur 25-29 tahun) maka populasi menjadi 6,6 persen lebih kecil; c). jika seluruh kelahiran dari perempuan umur 15-19 tahun dapat dihapuskan maka populasi menjadi 15,1 persen lebih kecil.

Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan penelitian fertilitas remaja di Indonesia untuk mengetahui pola dan perbedaan fertilits remaja, faktor-faktor yang berpengaruh pada kejadian fertilitas remaja dan seberapa besar pengaruh masing-masing faktor.

Metodologi

Unit analisis penelitian adalah wanita berstatus kawin usia 15-19 tahun. Data yang digunakan adalah SDKI 2012. Data diolah dengan menggunakan program SPSS 24.0 (Statistical Package for Social Science). Metode analisis dengan model regresi logistik biner untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat (Usman dan Sobari, 2009).

Hasil
Hasil uji univariat menunjukkan bahwa persentase wanita kawin yang sudah menjadi ibu (15-19 tahun) dengan karakteristik tinggal di perdesaan, pendidikan menengah ke bawah, dari kuintil kekayaan bawah dan berstatus tidak bekerja lebih besar dibandingkan wanita kawin (15-19 tahun) yang tinggal di perkotaan, pendidikan tinggi, dari kuintil kekayaan atas dan berstatus bekerja. Pada tabel 1.disajikan distribusi persentase wanita kawin (15-19 tahun) menurut karakteristik latar belakang.

Tabel 1. Distribusi persentase wanita kawin (15-19 tahun) menurut karakteristik latar belakang: Indonesia, SDKI 2012

  • Hasil uji bivariat dengan menggunakan uji kai kuadrat menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna kejadian fertilitas remaja (15-19 tahun) menurut tempat tinggal, tingkat pendidikan, kuintil kekayaan, pengetahuan tentang KB dan pemakaian kontrasepsi. Hanya variabel status kerja menunjukkan tidak ada perbedaan kejadian fertilitas remaja di antara wanita kawin (15-19 tahun) yang bekerja dan tidak bekerja. Hasil uji bivariat dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Distribusi presentase fertilitas remaja menurut karakteristik latar belakang wanita kawin (15-19 tahun) Indonesia, SDKI 2012

  • Tabel 3. Disajikan analisis multivariat, model regresi logistik biner yang dihasilkan menunjukkan pengaruh tempat tinggal, pendidikan, kuintil kekayaan, pengetahuan kb dan pemakaian kb secara bersama-sama signifikan secara statistik mempengaruhi kejadian fertilitas wanita (15-19 tahun). 

  • Pendidikan signifikan mempengaruhi kejadian fertilitas remaja. Pendidikan memiliki hubungan negatif dengan kejadian menjadi ibu pada usia muda. Semakin rendah pendidikan wanita, semakin tinggi peluang untuk menjadi ibu pada usia muda. Wanita dengan pendidikan rendah (tidak sekolah – tamat SD) berisiko 10 kali lebih tinggi untuk menjadi ibu pada usia muda dibandingkan wanita berpendidikan tinggi. 

  • Wanita dengan pendidikan tidak tamat SMP – tamat SMP berisiko tiga kali lebih tinggi untuk menjadi pada usia muda dibandingkan wanita berpendidikan tinggi.

  • Kuintil kekayaan berpengaruh signifikan dengan fertilitas remaja. Wanita dari kuintil kekayaan bawah berpeluang tiga kali lebih tinggi untuk menjadi ibu pada usia muda dibandingkan mereka dari kuintil kekayaan atas; wanita dari kuintil kekayaan menengah berpeluang dua kali lebih tinggi untuk menjadi ibu pada usia muda dibandingkan mereka dari kuintil kekayaan atas.

  • Ada hubungan signifikan antara tempat tinggal dengan kejadian fertilitas remaja, wanita yang tinggal di perdesaan berisiko menjadi ibu pada usia muda dibandingkan wanita yang tinggal di perkotaan. Wanita yang tinggal di perkotaan 0,7 kali lebih rendah untuk menjadi ibu pada usia muda.

  • Wanita yang berisiko mengalami kejadian fertilitas remaja adalah mereka yang berpendidikan rendah, dari kuintil kekayaan bawah dan tinggal di perdesaan.

Diskusi

     Fertilitas remaja yaitu jumlah wanita sudah pernah melahirkan atau sedang mengandung anak pertama pada usia 15-19 tahun. Angka fertilitas remaja 48 per 1000 perempuan 15-19 tahun. Fertilitas remaja dipengaruhi oleh pendidikan, status sosial ekonomi dan tempat tinggi. Wanita berpendidikan tidak tamat SD, dari strata ekonomi bawah dan hidup di perdesaan berisiko lebih tinggi untuk menjadi ibu pada usia muda. Kondisi ini diperkuat dengan undang-undang perkawinan 1/1974 yaitu batasan usia menikah 16 tahun bagi perempuan dan 18 tahun bagi laki-laki. Undang-undang perkawinan belum berpihak kepada perempuan, ada perlakukan diskriminatif antara perempuan dan laki-laki dalam umur kawin. Undang-undang perkawinan menetapkan usia perkawinan yang lebih rendah untuk anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Kondisi ekonomi, sosial budaya, dan hukum menempatkan perempuan rentan mengalami perkawinan pada usia muda. 
     Hidup dalam kemiskinan, tidak berpendidikan dan tinggal di perdesaan menjadi penyebab utama kejadian fertilitas remaja di Indonesia. Permasalahan klasik ini harus menjadi prioritas pemerintah. Pembangunan diarahkan ke perdesaan (rural oriented), pemberdayaan perempuan dan peningkatan akses pendidikan dan kesehatan yang seluas-luasnya bagi perempuan. Sinergi antar sektor pemerintah, swasta, LSM, dan media dibutuhkan dalam upaya pengendalian dan penurunan kejadian fertilitas remaja di Indonesia.
     Pada akhirnya, masih banyak permasalahan yang belum diangkat tentang ferilitas remaja di Indonesia, termasuk analisis biaya kesehatan yang ditimbulkan akibat fertilitas remaja, investasi manusia yang hilang akibat fertilitas remaja, biaya sosial yang ditimbulkan akibat fertilitas remaja, anak sebagai barang ekonomi bagi sebagian besar pemahaman orang tua, bagaimana peranan orang-orang di sekitar anak perempuan dalam keputusan perkawinan usia muda, dan ekspektasi umur kawin anak bagi orang tua yang mengalami perkawinan usia muda.

Kesimpulan

  • Satu dari sepuluh remaja wanita umur 15-19 tahun sudah pernah melahirkan dan atau sedang hamil pada saat survey dilakukan.
  • Tiga dari sepuluh remaja wanita sudah menjadi ibu pada usia 15-17 tahun, dan tujuh dari sepuluh remaja wanita menjadi ibu pada usia 18-19 tahun (2,9 persen dan 7,4 persen).
  • Secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian fertilitas remaja dengan daerah tempat tinggal, pendidikan, tingkat kesejahteraan keluarga, pengetahuan kontrasepsi, dan pemakaian kontrasepsi.
  • 94 persen remaja wanita mengetahui tentang kontrasepsi namun hanya 6 persen saja mereka yang menggunakan kontrasepsi.
  • Pemakaian kontrasepsi memiliki pengaruh terhadap kejadian fertilitas remaja. Mereka yang memakai kontrasepsi umumnya adalah mereka yang pernah melahirkan anak hidup.
  • Pendidikan memiliki pengaruh terhadap kejadian fertilitas remaja. Mereka yang berpendidikan rendah berisiko 10 kali lebih tinggi untuk mengalami fertilitas di usia remaja.
  • Kemiskinan memiliki pengaruh terhadap kejadian fertilitas remaja. Mereka dari stata ekonomi bawah berisiko 2 kali lebih tinggi untuk mengalami fertilitas di usia remaja.
  • Remaja wanita yang tinggal di perdesaan, berpendidikan rendah, dan berstatus ekonomi rendah memiliki kecenderungan untuk mengalami fertilitas di usia remaja.

Rekomendasi

  • Meratifikasi Undang-undang No. 1/1974 tentang perkawinan tentang batasasn usia menikah 16 tahun untuk perempuan dan 18 untuk laki-laki. Undang-undang perkawinan 1/1974 tidak sesuai amanat dari KHA (Konvensi Hak Anak), CEDAW (The Convention on The Elimination of all forms of Discrimination Againts Women), dan Undang-undang tahun 2002, yaitu:
  • KHA mendefinisikan setiap orang di bawah usia 18 tahun sebagai anak dan berhak atas semua perlindungan anak. Perkawinan usia anak melanggar sejumlah hak manusia yang dijamin oleh KHA yang di antaranya hak pendidikan, hak untuk hidup bebas dari kekerasan dan pelecehan, hak atas kesehatan, hak dilindungi dari eksploitasi dan hak untuk tidak dipisahkan dari orang tua mereka;
  • Konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW-The Convention on The Elimination of all forms of Discrimination Againts Women) dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang menyatakan bahwa perkawinan usia anak tidak boleh dinyatakan sah menurut hukum;
  • Undang-undang tahun 2002 tentang perlindungan anak, yang mengharuskan orang tua untuk mencegah perkawinan usia anak (pasal 26,1c) dan mendefinisikan anak sebagai setiap orang di bawah usia 18 tahun (pasal 1 ayat 1).
  • Undang-undang perkawinan 1/1974 menetapkan usia perkawinan yang lebih rendah untuk anak perempuan daripada anak laki-laki. Perempuan lebih rentan mengalami perkawinan usia dini Usia minimum yang berbeda antara anak laki-laki dan anak perempuan juga mencerminkan pandangan diskriminatif dan merugikan karena anak perempuan boleh menikah dengan usia yang lebih rendah daripada anak laki-laki didorong oleh peran-peran yang diharapkan dari mereka dalam keluarga dan masyarakat.
  • Tingginya prevalensi fertilitas remaja di Indonesia menunjukkan pemerintah gagal memberikan perlindungan dalam pemenuhan hak-hak anak perempuan di Indonesia.
  • Akses kepada tingkat pendidikan formal yang lebih tinggi bagi remaja wanita dengan meningkatkan cakupan layanan pendidikan dan dukungan lainnya bagi anak perempuan usia 15-17 tahun;
  • Akses kesehatan yang seluas-luasnya bagi ibu dan anak dalam pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan;
  • Penyediaan pelatihan dan keterampilan usaha ekonomi kreatif bagi remaja wanita perlu digalakkan terutama pada daerah perdesaan untuk menciptakan lebih banyak kesempatan bagi anak perempuan berkembang;
  • Peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi melalui kurikulum Pendidikan di sekolah maupun bagi remaja yang sudah putus sekolah;
  • Peningkatan KIE bagi remaja putri melalui Program Generasi Berencana dan PKPR;
  • Informasi tentang risiko 4T tetap harus digalakkan untuk menurunkan fertilitas di kalangan remaja;
  • Pembangunan sarana dan prasarana sekolah, puskesmas, jalan, diarahkan ke perdesaan “rural oriented” terutama di desa-desa tertinggal, terpencil, dan perbatasan;
  • Menargetkan upaya-upaya ke provinsi, kabupaten, dan kecamatan dengan prevalensi dan angka mutlak tertinggi untuk fertilitas remaja;
  • Menangani norma sosial dan budaya di tingkat lokal;
  • Mendukung riset lebih lanjut tentang isu fertilitas remaja di Indonesia.

Penghargaan yang tinggi disampaikan kepada:

  • Prof. Hasbullah Thabrany : Dosen Mata Kuliah Analisis Kebijakan Kesehatan yang memberikan motivasi untuk menulis lebih baik;
  • Omas Bulan Samosir, Ph. D : Dosen dan peneliti senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dan Peneliti Senior Lembaga Demografi UI;
  • Mugia Bayu Raharja,S.Si., M.Si : Peneliti Pusat Kependudukan BKKBN.


Daftar Pustaka
Alemayehu, Tewodros, Jemal Haider dan Dereje Habte. (2010). Determinants of Adolescent Fertility in Ethiopia. Ethiop. J. Health Dev, 2010; 24(1);30-38.

Badan Pusat Statistik. (2012). Survei Sosial Ekonomi Nasional. Jakarta : BPS.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik, dan Macro. (2012). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta : Macro.

Badan Pusat Statistik dan United National Children Fund’s. (2015). Kemajuan Yang Tertunda: Analisis Data Perkawinan Usia Anak di Indonesia. Jakarta : BPS.

Bongaarts, John. (1978). A framework for Analyzing the Proximate Determinants of Fertility in Population and Development Review Vol.4 No. 1, pp.105-132.

Cesare, Mariachiara dan Jorge Rogriguez Vignoli. (2006). Micro analysis of adolescent fertility determinants:the case of Brazil and Colombia.Università di Roma La Sapienza, Centro Latino Americano y CaribeñodeDemografía. 
http://papelesdepoblacion.uaemex.mx/pp48_Ing/05_MACHIARA.pdf.

Davis, Kingsley dan Judith Blake. (1956). Social Structure and Fertility: An Analytic Framework in Economic Development and Cultural Change, Vol. 4. No. 3 (April, 1956), pp. 211-235.
Dutta, P., & Sarkar, S. (2014). Trend and differentials of a socio-demographic scenario and extent of adolescent fertility in maharashtra, india. Journal of Settlements and Spatial Planning, 5(1), 41-47. Retrieved from http://search.proquest.com/docview/1551972982?accountid=17242

Laura Lindberg, John Santelli, Sheila Desai. (2016). Understanding the Decline in Adolescent Fertility in the United States, 2007–2012, Journal of Adolescent Health, Available online 29 August 2016, ISSN 1054-139X, http://dx.doi.org/10.1016/j.jadohealth.2016.06.024.

(http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1054139X16301720)

Mahy, Mary dan Neeru Gupta. (2002). Trends and Differentials in Adolescent Reproductive Behavior in Sub-Saharan Africa. DHS Analytical Studies No. 3. Calverton, Maryland: ORC Macro.

Menken, Jane. 1972. The Health and Social Consequences of Teenage Childbearing. In Teenage Sexuality Pregnancy and Childbearing, Frank F. Furstenberg, Jr, Richard Lincoln dan Jane Menken (editor). University of Pennsylvania Press. 1981.

McDevitt, Thomas M, Arjun Adlakha, Timothy B. Fowler dan Vera Harris-Bourne. (1996). Trends in Adolescent Fertility and Contraceptive Use in the Developing World. U.S. Bureau of the Census, Report IPC/95–1. Washington DC. http://www.censusgov.zuom.info/ipc/prod/ipc95-1/ipc95_1.pdf

Nachrowi, Nachrowi D, dan Hardius Usman. 2009. Penggunaan Teknik Ekonometri Pendekatan Populer dan Praktis Dilengkapi Teknik Analisis dan Pengolahan Data dengan Menggunakan Paket Program SPSS (Edisi revisi). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Nahar, Quamrun dan Hosik Min. (2008). Trends and Determinants of Adolescent Childbearing in Bangladesh. DHS Working Papers No. 48. Columbia, Maryland, USA: Macro Inc.

WHO. (2008). Adolescents Pregnancy: Department of Making Pregnancy Safer Notes Vol. 1 No.1 October 2008.

Yavuz, Sutay. (2010). Changes in Adolescent Childbearing in Morocco, Egypt and Turkey. DHS Working Papers No. 75. Calverton, Maryland, USA: ICF Macro.

United Nations General Assembly (UNGA). 1989. "Convention on the rights of the child." http: / / www2.ohchr.org / english / law / pdf/ crc.pdf>. Accessed November 2012.




Drs. Endang Agus Sapri, MM
Kepala Perwakilan
BKKBN Provinsi Jambi
"Dua Anak Cukup
Bahagia sejahtera"
Drs. H. Edward, MM
Kepala Bidang
Pengendalian Penduduk
BKKBN Prov. Jambi

Photo Gallery

Pengumuman BKKBN

Produk Hukum

Indeks Berita

/ /

Video Kegiatan